Cerpen
SETANGKAI MELATI DI SAYAP JIBRIL
Siklus kehidupan, sunnatullah, kausalitas, hukum alam. Semuanya tidak terlepas darinya menyangkut hidup. Hidup sudah menjadi ketentuan yang maha kuasa: lahir, tua dan mati, semua manusia mengalaminya. Kata seorang seniman manusia hidup dalam tiga alam kehidupan,alam kandungan: yang di dalamnya ruh ditiupkan oleh Tuhan dan menandakan ada kehidupan tapi tidak dapat berbuat banyak dengan kehidupan itu sendiri, alam dunia: dimana manusia menjalani hidup menurut kehendak kuasanya sendiri tetapi diatur oleh nilai-nilai yang ada dalam aturan dunia. Hidup ini tidak dari suatu pilihan.jika manusia memilih kebaikan maka kebaikan menjadi miliknya, begitu juga sebaliknya dari kejelekan, dan alam akhirat:adalah buah dari benih-benih dunia.
“kehidupan, akulah kehidupan, akulah yang menentukan dari kehidupanku sendiri” bisikku dalam hati dalam kesendirian ditemani sang malam dan bisikan-bisikan oleh simbol-simbol kehidupan, baik-buruk, malaikat-syaitan, surga-neraka, dan sebagainya. Hingga dikejutkan oleh setangkai melati merekah di meja yang aku tidak tahu siapa pengirimnya.
Aku mengambil setangkai melati tersebut dan kuletakkan di vas bunga ditempatkan dikamarku diatas meja berjejer dengan foto ummiku yang berkerudung putih. Aku heran hingga beberapa minggu lamanya. Setangkai melati tak juga layu. Aku semakin mengaguminya, semakin elok dipandang, semakin indah, bahkan boleh dibilang aku jatuh cinta kepadanya.
Aku dikejutkan oleh ketukan pintu ketika memandang setangkai melatiku lamat-lamat. Assalamua’alaikum… Anton…. Anton….. aku bergegas membuka pintu. “oh kamu Han” sapaku, “ada apa ya?” “ngak, aku ingin ngajak kamu itupun kalau kamu mau” Tanya Handri. “saya tidak ada kerjaan kok, memangnya mau kemana?” tanyaku ”rencananya sich mau membeli bunga”. “ngomong-ngomong buat siapa nich?” tanyaku seraya meledeknya, “itu tuh juwitaku, jantung hatiku” “yech… yang lagi jadian, sekarang?” “iya lah kapan lagi, nanti malam kan Valentinan, hitung-hitung buat pengokohan cinta” jelas Handri kepadaku.
Sepeda buntut meluncur dengan cepat, melewati kelokan-kelokan padatnya lalu lintas, mengantarkan kami di taman yang penuh bunga. Aku heran oleh keindahan bunga-bunga di taman ini, berbagai macam bunga pasti ada disini, yang konon di hafal oleh Adam mulai dari nama, jenis dan kegunaannya hingga mengalahkan para malaikat berdebat dihadapan tuhan dan membuat malaikat ingin membuktikan untuk menjadi manusia dibumi: Ya’jud dan Ma’jud. Dan yang membuatku tertarik disini tidak hanya bunga, tetapi simbol keindahan dari semua ini mencerminkan makro kosmos kehidupan di jagat raya ini: kausalitas, siklus kehidupan, sunnatullah. Manusia membeli bunga dengan berbagai macam dan tujuan, ada bunga kehidupan, ada bunga duka cita dan ada bunga kematian, semuanya memenuhi hukum kausalitas, sunnatullah, apapun itu namanya, terserah manusia mengistilahkannya. Bunga kehidupan adalah kelahiran, bunga duka cita adalah tua, dan bunga kematian berahirnya suatu kehidupan: lahir, tua dan mati.
Wajah-wajah manusia yang suka atau benci terhadap bunga ada disini, memenuhi taman yang penuh bunga untuk sekedar membelinya sesuai dengan siklus kehidupannya. Raut wajah terpatri jelas dan tidak dapat disembunyikan dengan bunga yang dibelinya. Warna merah melambangkan cinta, kuning melambangkan persahabatan dan putih melambangkan kesucian, bisa saja untuk kematian, manusia harus suci untuk menghadapi kematian. Semua melambangkan kehidupan makro kosmos.
”Sudah dapat bunga?” tanyaku pada Anton, “ini dia bunganya, cantikkan?, bunga warna merah dengan lambang cinta”, menunjukka kepadaku seraya mendeklamasikan kata-katanya.
***
Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang tidak terlalu empuk; sambil memandang bunga yang ada di meja. Aku sangat kagum pada bunga ini, semakin hari semakin cantik, sehingga membuat lelap dalam mimpi-mimpi dikala tidurku. Karena kebiasaan aneh ini datang bersama hadirnya setangkai melati dalam hidupku. Aku tidak akan bisa tidur sebelum memandang melati cantikku. Apakah ini yang dinamakan setangkai melati di sayap jibril?.
Kring…kring….kring …telpon berdering. “Assalamua’laikum” salamku “wa’alaikum salam, ini Ummi Han, kamu baik-baik saja kan?, Ummi kangen sama kamu, kamu pulang ya”, sapa ummi. “emangnya ada apa Mi, ada keperluan mendesak ya?” tanyaku “Abah dan Ummi rencananya mau tunangin kamun” kabar dari ummi membuatku kaget setengah mati”. apa ngak salah denger Mi, kan Handri masih kuliah kok ditunangin?, elakku dari terror Ummi, “sudah kamu pulang dulu nanti kita bicarakan di rumah bersama Abahmu.
Tidak kalah terkejutnya telpon dari Ummi tentang kabar tunanganku. Sepulang dari kuliah setangkai melati yang kuletakkan di atas meja berjajar dengan foto Ummiku hilang tanpa jejak. Aku mencari-carinya, di selorokan, di kolom tempat tidur, di atas lemari, di bawah bantal, di bawah kasur, aku bertanya kepada teman-teman kos, aku bertanya kepada tetangga-tetangga,tapi jawabannya sama: tidak tahu.
Aku masih melamun oleh teror dari Ummi untuk segera pulang. Sempat mengelak atau mencari-cari alasan untuk menolak tentang hal lamaran tersebut, tapi Ummi tidak kalah mengultimatum diriku. Maklum aku anak terahir setelah kakak perempuanku ikut suaminya ke Solo. Aku anak kesayangan Ummi. Jadi Ummi ingin nanti aku tinggal bersama beliau. Ummi berharap aku tidak mengecewain pilihan Ummi. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Computer kumatikan, hanya lampu yang aku biarkan tetap menyala walaupun malam semakin larut. Aku sempatkan mengambil wuduk untuk sholat memohon petunjuk Allah. Aku menggigil oleh sentuhan-sentuhan air hingga membuat seluruh tubuhku kedinginan, setelah beberapa jam otakku terperas habis membuat tulisan untuk tugas-tugas kampus.
Aku mohon petunjuk Allah dengan segala kepasrahan dari godaan-godaan dunia. Mana yang terbaik buat kebaikan dunia akhiratku. Sebelum aku beranjak untuk tidur aku menyatel jam weker pada jam 03.00 untuk sholat subuh.
Sudah dua minggu teror tersebut mengganggu pikiranku, merusak selera makanku, konsentrasi belajarku dan akal sehatku. Teringat seorang gadis ahk…. Semasa kecilku dulu ketika masih kelas satu SMP semester pertama. Aku kagum pada seorang gadis yang pada saat itu masih misterius bagiku. Dia bernama Ratih Kusuma Dewi, kau bisa bayangkan dengan nama itu, secantik namanya, dengan rambut yang panjang yang lurus menjadi ciri khas dirinya, bibirnya yang semanis madu tatkala tersungging senyumnya, alisnya bagaikan dua busur panah, matanya jernih, bening, bersinar tatkala memandangnya, ditambah lakunya yang ayu menambah kesempurnaan kecantikannya. Aku selalu di buat penasaran oleh RKD dalam sejarah tersebut aku hanya dua kali bertegur sapa dan ketiga kalinya aku lancarkan aksi strategis untuk kenal lebih dekat dengannya, hingga beberapa minggu lamanya dia tidak pernah kelihatan dihadapanku, hingga kabar yang membuatku luluh, hasratku, cintaku dan dia telah pindah kesekolah yang lain. Terpaksa aku harus memendam hasratku dalam-dalam. Subhanallah, aku sadar dari lamunan panjangku.
Aku harus pergi pulang kampung hari ini. Aku sudah berjanji pada Abah dan Ummi akan pulang minggu ini juga. Aku bergegas membereskan perlengkapan untuk pulang membawa tas dan baju seadanya. Kemudian sampai di terminal aku memilih bus antar kota jurusan jawa: genteng, sebuah kota tak cukup besar di kota Banyuwangi. Satu malam perjalanan aku sampai di tempat tujuan dengan memerlukan tukang ojek untuk sampai di rumahku.
“Kiri pak” kataku pada tukang ojek ketika sampai didepan rumahku yang teduh dengan pohon rindang dengan bunga-bunga tertata rapi yang tampak segar. Ummi selalu merawatnya denngan baik seperti dulu waktu aku masih disini. Selintas teringat setangkai melatiku yang hilang entah kemana. Lama rasanya aku meninggalkan Abah dan Ummi.
Suasana rumah masih tampak sepi, waktu masih subuh, gelap masih menyelimuti bumi. “pasti Abah dan Ummi masih sholat berjemaah di dalam, itu merupakan aktifitas rutin yang tidak bisa di tinggalkan oleh beliau dan menambah keharmonisan keluarga” bisikku dalam hati.
“Assalamu’alaikum” salamku, belum ada jawaban dari dalam rumah, hingga aku ulangi beberapa kali masih belum ada jawaban dan membuatku terasa mengantuk di tempat duduk hingga aku di kagetkan oleh suara ummiku.
“Duh anakku, Ummi sama Abah kangen padamu”. Ummi langsung memelukku dan menciumku dengan bertubi-tubi. “Ummi kangen banget… Ummi kangen banget… Ummi kangen banget… beliau ucapkan berulang-ulang, mukennanya masih membungkus Ummi, kemudian Abah menyusul keluar, aku mencium tangan beliau, tangan yang selalu memberikan penngarahan pada anaknya.
Pukul 07.00 pagi kami sekeluarga sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan. Ummi rupanya memasak menu spesial untukku: sate kambing, pecek lele dengan mentimun yang di iris-iris persegi dan beberapa daun kemangi menambah wanginya aroma lele dan sambel pedas yang tak bisa di tinggalkan dalam acara makan di manapun, kalau tidak bagiku “tidak syah”.
Setelah acara makan selesai kami duduk di ruang tamu membicarakan maksud dan tujuanku pulang kekampung. “bagaimana dengan kuliahmu Han?” Tanya Abah padaku. “alhamdulillah baik Bah, bahkan tahun ini rencananya mau menyelesaikan skripsi”. “bagus itu lebih baik” saran Abah. “iya Han Abah dan Ummi rencananya mau tunangin kamu dengan anak temen Abah yang mondok di Jombang, orangnya cantik, alim, pasti kamu suka kepadanya, oh ya dia hampir hafal Al-qr’an 30 juz lho, kira-kira setahun lagi dia sudah menamatkan hafalannya, Ummi rasa sebentar lagi kamu kan selesai kuliah, jadi kalian berdua tidak mengganggu pendidikan kalian, Abah dan Ummi pengen momong cucu, gimana menurut kamu pilihan Ummi?” aku langsung ciut melihat kondisiku sendiri, rasanya tidak pantas bersading dengan gadis solehah seperti yang di cirikan oleh Ummi atau aku apakah bahagia. Aku antara bimbang dan bahagia.
“Tapi Mi, sebenarnya aku kepengen konsentrasi dulu ke skripsi, ngak mau mikir yang macam-macam, apalagi soal tunangan, Handri takut nanti studi Han terbengkalai, apa tidak baik ditunda aja Mi tahun depan?” aku mengelak dari pertanyaan ummi. “masalahnya gadis yang mau ditunangkan kepadamu sudah banyak orang yang melamarnya, tapi si Mahfud orang tua gadis itu menolak, karena aku pernah bilang kepadanya ingin meminang anak gadisnya buat kamu, sekarang menagih pernyataan Abah, apa kamu mau membuat malu Abahmu?” pernyataan Abah serasa membuat bulu kudukku berdiri, aku tidsak berkutik apa-apa bagaikan makan buah simalakama. “tapi aku percaya seratus persen kepadamu mengenai tunangan ini tidak akan berpengaruh buruk kepada pendidikanmu, malah Abah yakin kamu akan bertambah semangat untuk belajar, dia pintar, cantik lagi, kalau Abah jadi kamu pasti Abah samber” ledek Abah, akupun tersenyum oleh ledekannya.
“tapi kalau sekiranya membuat hati Abah dan Ummi bahagia Handri serahkan sepenuhnya kepada Abah dan Ummi” ucapku lemah.
Resah dan bimbang selalu menyellimuti hatiku, hingga aku pasrahkan semuanya kepada yang maha kuasa, melalui sosok ridho suci dari Ummiku, yang kasih sayangnya selalu memberi keteduhan pada anak-anaknya, bukakah ”surga berada di telapak kaki Ibu”.
Malam-malamku tatkala sepi meradang dalam gelapnya manusia ketika turunnya rahmat tuhan di suatu malam terbukanya hijab, untuk menaburkan rahmat-Nya kepada manusia yang terjaga di malam-malam tersebut untuk bermunajat. Hingga datanglah hari-hari yang menggetarkan dada yaitu hari pertunanganku.
Pagi itu dengan hangat mentari menyinari bumi tibalah saat yang membuatku berada dalam misteri tuhan, menantikan sosok Hawa bagi Adam, Zulaikha bagi Yusuf, Qais bagi Layla, Romeo bagi Juliet, memainkan sosok pecinta dan kekasih yang menantikan penyatuan. Tapi aku tidak tahu menjadi kekasih atau menjadi pecinta. Aku hanya seorang hamba yang berda dalam karunia tuhan.
Mobil mengantarkan kami kepada tempat tujuan, kepada masa depanku. Sampailah kami di depan rumah yang indah dengan bunga-bunga yang cukup beragam dengan desain penataan yang baik, “pasti orang yang merawat itu telaten, kalau seorang perempuan pasti sesosok ibu yang penuh kasih sayang sama seperti ibuku yang juga suka pada bung” bisikku dalam hati.
Aku adalah pengagum bunga melalui hadirnya setangkai melati dalam hidupku. Tapi aku tidak tau dimana melatiku sekarang. Aku mengamatti berderret-deret bunga tapi tidak kutemukan melatiku di sana.
Tuan rumah mempersilahkan kami masuk dengan santunya. Setelah itu, kami membicarakan persoalan pertunangan yang berkesimpulan kesepakatan tali kasih dua sejoli antara aku dengan seorang gadis.”tapi mana gadisnya?”tanyaku dalam hati.
Tak lama kemudian gadis berkerudung biru membawa suguhan minum tepatnya kearah kamu. Gadis berkerudung menjadi sorotan mata kami, terutama aku. Begitu dekat, begitu dekat, hingga terahir kumelirik wajah di balik kerudung biru itu hingga kami berduh pandang.
Deng…. !!! subhanallah, serasa dihantam godam, bukankah gadis berkerudung itu RKD: Ratih Kusuma Dewi, belahan jiwaku, kisah kasih tak sampai. Perasaan cinta ini bersemi kembali, semilir angin pagi. Aku tidak tau bagaimana wajah kekesihku waktu itu. Dia hanya tertunduk malu bersembunyi di balik kerudung biru. Kami menjadi sorotan kedua orang tua kami. Membuat seisi dunia ini mersa iri, tentang persaan kami, bersatulah Yusuf dengan Zulaykha.
Bumi yang kami pijak terasa indah memainkan perasaan kami. Hanya satu dalm pikiranku wajah dalam kerudung biru. Dia hadir dalam hidupku bagaikan setangkai melati yang hadir secara misterius yang hilang tang berimba, tapi kini tuhan menggantinya dengan keelokan perawan yang menggantikannya di hatiku. Hidup ini penuh misteri dan misteri itu indah. Aku bagaikan berada dalam demensi ruang dan waktu antara masa dulu dan sekarang, dimana gadis yang aku kagumi hadir dalam sosok perwan. Alhamdulillah, aku tidask tau dengan cara apa aku harus bersyukur.
Aku tidak menyadari bahwa diriku masih dalam suasana perkaguman. Acara meminang gadis yang kupuja yang bernama Ratih. Setangkai melatiku berubah menjadi bidadari.
“Han seharusnya sekarang kau lebih kenal dekat dengan Ratih,dia orangnya sangat pemalu, sana kau ajak dia ngobrol” saran ibu Ratih calon mertuaku, aku tidak tau aku harus billing apa, tiba-tiba aku menjadi seorang pemalu di hadapannya. Dengan hati berdebar aku hampiri ia diteras belakang berada di antara berbagai Janis bunga. Derap langkah yang pasti membahagiakan hatiku mendekatinya. Dia tampak kaget ketika aku berada di sampingnya tanpa suara, hingga setangkai melati hampir jatuh di tangannya.
”Han, kau… kau…. Kau…” ia tampak gugup, tapi aku juga tidak menguasai keadaan. “Ratih” ucapku, kami tersennyum malu dengan percakapan bisu tetapi hati kami saling mewarnai, menyapa dengan penuh keakraban, hinnga aku mulai dengan dua patah kata karena ketertarikan dan perasaan yang sangat “melatiku” ucapku. Ratih tersenyum tampak bingung seakan mendapat pujian terindah dari seorang kekasih. “bagaimana melatiku menjadi milikmu, bukankah dia setanngkai melati yang pernah singgah dihatiku?”. Ratih baru sadar bahwa dia memegang setangkai melati kemudian menciumnya seperti seorang kekasih, kemudian memandangku. “Jibril” jawab Ratih.
“Jibril” heranku memandang wajahnya dengan seksama. “beberapa minggu yang lalu Jibril membawakan setangkai melati ini untukku. Jibril membumbung tinggi terbang di langit mengepakkan sayap indahnya. Aku kagum memandang keindahan kdua sayapnya. Aku berpipkir seandainya aku mempunyai sayap seperti Jibril, aku akan terbang tinggi pergi bersamanya menuju Tuhan. Aku memandangnya dari bumi sedangkan Jibril di atas langit tinggi. Tiba-tiba aku terangkat ke langit terbanng sepertiu Jibril dan tak terasa aku berada di dekatnya. Aku heran memandang setangkai melati indah di sayap Jibril. Jibril seakan tau maksudku, kemudian memetik dari sayapnya dan menyarahkannya kepadaku kemudian menyebut nama seseorang yang terdengar samar. Aku baru sadar bahwa itu mimpi setelah aku membuka mata bahwa aku masih berada dalam kamar, dan aku baru sadar bahwa itu kenyataan setelah setangkai melati ini benar-benar ditanganku. “terang Ratih.
“Siapa seseorang yang disebut Jibril?” tanyaku “kau” aku kaget seakan tidak percaya. Serasa ingin meluapkan perasaan ini aku ingin katakana tapi dibibirku terasa kelu. Perasaanku lebih dari sekedar kata cinta dibibir. Akulah cinta ucapanku, tanganku, pandanganku, langkahku, aku berada dalam teufani seperti Arobi ketika hati terpaut dalam ranting-ranting dalam serat wajah bagai rembulan.
Jibril,setangkai melati mungkinkah setangkai melatikku berubah menjadi seorang gadis. Oh …. Jibril, Oh… gadisku, Oh…. Melatiku. Siklus kehidupan, kelahiran, duka cita, kematian. Akulah kehidupan. Akulah symbol bunga kebahagiaan. Oh…. Seniman akulah kini kehidupan.
Andri,latee 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar